Sekolah Tanpa Kekerasan dalam mendukung Sekolah Ramah Anak melalui pendekatan Disiplin Positif.

by - May 18, 2018


Ada banyak yang saya dapatkan ketika menghadiri acara Peluncuran Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak (PKTA) Indonesia Tanpa Kekerasan Terhadap Anak 2030, semua yang turut serta dalam mendukung kegiatan ini seperti Kementerian /lembaga terkait, Badan PBB, Komisi negara, Donor, Media, Sektor swasta, Sekolah tanpa kekerasan, Pemerhati anak, Forum anak, dan Anggota Aliansi PKTA memberikan banyak edukasi dan dampak positif salah satunya tentang edukasi Sekolah Tanpa Kekerasan dalam mendukung Sekolah Ramah Anak melalui pendekatan Disiplin Positif

Bayangan saya langsung tertuju pada sesorang yang saya kenal dekat. seseorang itu putus sekolah saat masih duduk dikelas X SMK entah alasan pastinya apa, anak itu enggan bercerita detail hanya terakhir saat-saat ia masuk sekolah ia mendapat hukuman ditampar oleh gurunya sampai pendengarannya terganggu karena bercanda di jam pelajaran, padahal anak itu bilang ia hanya mengambil pulpennya yang terjatuh di kolong meja temannya

Seketika ia berhenti sekolah mau tak mau ia ikut bekerja di usianya yang masih di bawah umur. setelah itu ia lebih lama menanggur karena lulusan SMP sangat sulit bersaing di dunia kerja. saat-saat itu adalah yang membuat hati saya miris, ketika saya setingkat lebih atas pendidikannya darinya, ketika dewasa saya malah menjadi guru SMP. dari kisah itu saya sebagai guru mengubah cara pandang saya tentang "Mendisiplinkan anak itu tidak harus dengan kekerasan" perinsip itu sebenarnya sudah lama saya terapkan saat pertama menjadi guru dan saat ini Sekolah Tanpa Kekerasan dalam mendukung Sekolah Ramah Anak melalui pendekatan Disiplin Positif sudah sangat digencarkan demi tujuan Indonesia tanpa kekerasan terhadap anak 2030, saya sangat mendukung dan antusias memberi paparannya kepada pembaca.

Belakangan pemberitaan kekerasan terhadap anak di Indonesia kembali mencapai momentumnya dengan persoalan seputar penerapan disiplin dalam bidang pendidikan formal yaitu sekolah. Kekerasan terhadap anak dalam tingkat dan kasus tertentu seolah diamini dan dimaklumi. 


KEKERASAN DALAM WUJUD HUKUMAN
Pertama, kita bahas tentang Anak mengalami kekerasan di sekolah. sebagian besar guru percaya hukuman sebagai metode pendisiplinan yang efektif (45% anak menyebutkan guru sebagai pelaku kekerasan; ICRW, 2015)

Saya yang pernah menjadi sesorang siswa sekolah dan juga sebagai guru SMP mengakaui bahwa masih banyak guru yang menerapkan kedisiplinan melalui kekerasan. maksud untuk mendisiplinkan anak namun sayangnya rasa (yang mereka anggap tegas) tidak ditanggapi nalar positif oleh anak didik.


MITOS : "Hukuman fisik cara yang paling baik dalam mendisiplinkan anak. Metode yang lain tidak bisa memberikan dampak sebaik itu"
FAKTA : Hasil penelitian malah menunjukan bahwa hukuman fisik berdampak negatif pada perkembangan anak. Sebaliknya hasil penelitian juga menunjukan bahwa pendekatan dengan disiplin positif (tanpa hukuman) mendorong berkembangnya kedisiplinan diri anak.

MITOS : "Hukuman mengajarkan ketaatan dengan rasa hormat"
FAKTA : Dengan hukuman anak hanya taat ketika ada yang mengawasi, padahal ketaatan pada peraturan dan etik harus didasarkan pada kesadaran.

MITOS : "Di ujung rotan ada emas"
FAKTA : Memang benar bahwa prinsip yang digunakan orang tua kita dulu untuk mendidik, namun hasil penelitian menunjukan bahwa tindakan kekerasan membawa dampak psikologis yang panjang hingga anak dewasa. hal ini menghasilkan budaya kekerasan yang berlangsung secara turun-temurun.

MITOS : "Hukuman adalah bentuk kasih sayang. anak yang kukasihi kuhajar dan kudidik"
FAKTA : Dari hasil penelitian menunjukan bahwa hukuman berdampak negatif bagi perkembangan anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini menunjukan bahwa hukuman bukanlah bentuk kasih sayang. Mendidik dan mengajar anak tidak harus dengan hukuman dan kekerasan.

Ubah cara pandang, tindakan dan praktek dimasyarakat yang menerima, menoleransi dan mengabaikan kekerasan menjadi praktek positif yang melindungi anak dari kekerasan


Kekerasan dalam lingkungan sekolah akan memberi dampak yang buruk bagi perkembangan belajarnya. antara lain

DAMPAK KEKERASAN ANAK;

1. DAMPAK AKUT TERHADAP KONDISI FISIK DAN PSIKOLOGIS ANAK (Depresi, gangguan tidur, penyakit kardiovaskular, jantung dan pembuluh darah) dan kemungkinan prilaku beresiko seperti menyakiti diri sendiri, penggunaan narkoba hingga prilaku seksual beresiko)

2. RENDAHNNYA PRESTASI PENDIDIKAN ANAK. Dapat berkontribusi pada putus sekolah dan konsenkuensi ekonomi jangka panjang.

3. Anak korban kekerasan berpotensi DUA KALI LIPAT MELAKUKAN KEKERASAN KETIKA MEREKA DEWASA hal ini berkontribusi pada siklus kekerasan antar generasi.

4. Studi di wilayah Asia Timur dan Asia Pasifik menyebutkan: PENANGANAN KEKERASAN ANAK MENGHABISKAN 3-4 PERSEN PDB TIAP NEGARA PER TAHUNNYA

Sebagai orangtua yang memegang penuh dalam kendali anak utamanya kita harus tahu dan paham tentang HAK ANAK. kekerasan di sekolah bukan berarti dari pengajar atau karyawan sekolah saja tetapi sering terjadi di interaksi sosial anak seperti BULLYING. bukan hanya guru/kepsek yang ikut serta membenahi pemarsalahan bullying ini tetapi peran para orangtua, alumni dan masyarakat sekitar harus bersatu padu mengubah tradisi bullying dengan menggantinya dengan SEKOLAH TANPA KEKERASAN atau SEKOLAH RAMAH ANAK.

Kita sebagai orangtua/guru harus mengormati harkat dan martabat anak, seperti membantu mereka mengembangkan prilaku, disiplinan diri, dan karakter yang baik. menekan tindakan bully bisa kita maksimalkan seperti melibatkan para alumni (partisipasi anak) secara aktif. sebagai orangtua kita harus menghormati kebutuhan perkembangan dan kualitas kehidupan anak dengan memberi motivasi dan memahami pandangan hidup anak. Terapkan kejujuran, kesetaraan, non-diskriminasi, dan keadilan di lingkungan sekolah maupun keluarga dengan mengajarkan tentang solidaritas dan toleransi.

DISIPLIN POSITIF adalah suatu pendekatan yang memberikan alternatif pengganti hukuman fisik, yaitu memastikan bahwa hukuman yang diterima anak bersifat logis sehingga anak belajar untuk tidak mengulangi prilaku yang tidak diinginkan. Pendekatan yang menanamkan disiplin bagi anak dengan mengajarkan penyelesaian masalah tidak dengan kekerasan

MENGAPA DISIPLIN POSITIF
  1. Melaluli disiplin positif, kekerasan pada anak berkurang.
  2. Berdampak positif pada pengembangan karakter anak seperti disiplin, social skill, bertanggung jawab 
  3. Berdampak positif bagi hasil belajar anak
  4. Berkurangnya prilaku sosial yang negatif seperti tawuran, melanggar hukum, konsumsi obat dan minuman terlarang 
  5. Guru dan orang tua memiliki cara yang lebih baik dalam mengajarkan kedisiplinan
salah satu contohnya, kita bisa mengganti Peraturan Sekolah menjadi Konsenkuensi dengan begitu anak tidak merasa terkekang oleh peraturan tetapi mengerti bahwa ia akan mendapatkan konsenkuensinya jika ia berlaku tidak disiplin, sehingga mudah dipahami anak secara logis bukan paksaan.Contohnya
Konsenkuensi logis. konsenkuensi logis mengajarkan anak bertanggung jawab atas setiap prilakunya kita bisa mengganti Peraturan Sekolah menjadi Konsenkuensi dengan begitu anak tidak merasa terkekang oleh peraturan tetapi mengerti bahwa ia akan mendapatkan konsenkuensinya jika ia berlaku tidak disiplin, sehingga mudah dipahami anak secara logis bukan paksaan. DENGAN DISIPLIN POSITIF ANAK AKAN, Belajar bertanggungjawab dalam mengelola tindakan mereka sendiri, tidak tergantung pada pihak otoritas (guru, orang tua, dll) untuk mengatur tindakan mereka.
  • Kesepakatan kelas sudah disusun bersama guru dan siswa
  • Guru-guru tidak lagi menggunakan tongkat/rotan dan mulai menggunakan kata-kata positif pada siswa



"Tujuaan utama kedisiplinan adalah agar anak memahami tingkah lakunya sendiri, berinisiatif dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih, serta menghormati dirinya sendiri dan juga orang lain. dengan kata lain, disiplin menanamka proses pemikiran dan prilaku positif sepanjang hidup anak"

Jika, pendekatan hukuman dibangun atas ketidakpercayaan guru atau orang tua bahwa anak dapat mengembangkan prilakunya dan dapat bertanggungjawab akan tindakan yang dipilihnya. sementara,
disiplin dibangun di atas kepercayaan guru dan orang tua bahwa tidak ada anak yang nakal karena anak tidak terlahir dengan watak yang JAHAT.

Dorongan dan penguatan positif memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan citra diri positif. Dorongan berbeda dengan pujian atau reward. contohnya, daripada kita memajang kata "di larang merokok" lebih baik diganti "terimakasih karena kamu tidak merokok" atau "dilarang coret-coret ditembok, dilarang buang sampah sembarangan " lebih baik diganti dengan "terimakasih kamu telah ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan"

Dorongan-> Kemandirian
Pujian & Reward -> Ketergantungan 

Jadi, parents hukuman fisik pada anak hanya akan melahirkan ketakutan dan gangguan mental, alih-alih disiplin. anak adalah bagian dari masa kini dan pemilik masa depan. maka kita harus melindungi mereka dan penuhi hak-haknya.

Semoga Bermanfaat!


_________________________________________________________________________________

Sumber:
Buku Disiplin Positif oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Berlian (bersama lindungi anak), Kabupaten Layak Anak, Deputi Perlindungan Anak

You May Also Like

15 komentar

  1. Aku setuju banget, mendidik anak tidak harus dengan kekerasan tapi harus lemah lembut dan kasih sayang tanpa menghilangkan disiplin buat sang anak supaya menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan bertanggung jawab.
    Btw, nice to meet you sis... semoga kita bisa meet again di next event yaa... 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah barakallahu jika bermanfaat Semoga berjodoh ya mbak 😊

      Delete
  2. He em banget kak, anak-anak yang sedang menimba ilmu ketika melakukan kesalahan tidak lagi menerima hukuman fisik maupun verbal, harusnya dengan disiplin positif. Sehingga anak-anak timbul kesadaran diri untuk taat.

    ReplyDelete
  3. Memang PR banget buat mendisiplinkan anak-anak ya, Mbak. Semoga bisa dilakukan tanpa kekerasan. Iya bener juga. Kekerasan justru bisa membuat anak malah jadi membangkang nantinya ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya betul karena anak peniru prilaku orgtuanya

      Delete
  4. Aku jg dulu sempat di bully waktu smu. Cuma 1 minggu sih. Kebetulan aku bukan type yg diam saja saja di intimidasi. Ya sayangnya kakak kakak kelas itu ga dapat hukuman yg pantas. Cm mereka berhenti ngebully saja krn ditegor kepala sekolah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jika dibully kita tdk boleh diam saja ya.. resep juga tuh km kelas ini hehe

      Delete
  5. Kedisiplinan memang perlu diterapkan baik diluar rumah seperti sekolah maupun didalan rumah ya mbak. Dan bisa dimulai sejak kecil. Kalau sudah terbiasa dari kecil disiplin Insha Allah akan terbawa sampai besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yesss apa yg ditanam kita sendiri yg memetik hasilnya 😊

      Delete
  6. Betul.mbak. hukuman hanya akan melahirkan kebencian dan ketakutan. Mari kita stop kekerasan pada anak

    ReplyDelete
  7. Disiplin positif emang bagus buat diterapkan ya mba. Aku tau istilah itu dr buku Keluarga Kita nya mba Najeela Shihab. Bookatore jual itu daa best seller banget. Kalo mau order d aku jg boleh wkwk jd promo

    ReplyDelete
    Replies
    1. 😍😍 belum baca sih tp jd penasaran hihi Lumayan buat nambah ilmu

      Delete
  8. Setuju saya, karena anak-anak gak bisa dididik dengan cara kekerasan

    ReplyDelete