Lauching Buku Digital ParenThink by Mona Ratuliu

by - August 21, 2018

Lauching Buku Digital ParenThink by Mona Ratuliu
Lauching Buku Digital ParenThink by Mona Ratuliu
Seperti menjawab itu semua, saya ikut menghadiri acara BookLauch, sebuah buku berjudul Digital ParenThink yang ditulis oleh Mona Ratuliu, diluncurkan pada hari Kamis, 16 Agustus di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan. Membuat saya belajar lagi tentang pengasuhan di era saat ini.

Rasanya memiliki smartphone sudah menjadi kebutuhan yang mutlak ya. Apalagi saya, karena hampir semua pekerjaan berasal dari benda kecil persegi panjang ini. Mulai dari nulis blog, networking, buat laporan, update, capture, dll. Bertekad untuk menjadi Wanita Karier Ibu Rumah Tangga (WKIRT) profesional tetep ada saja tantangannya. Maksudnya WKIRT?
Maksudnya, ibu rumah tangga yang berkarier by smartphone, Haha. dan boleh dikata profesional apabila kerjaan rumah tangga kepegang, termasuk mengasuh si anak disisi lain kerjaan tidak menjadi penghalang urusan rumah tangga.

Ya, perlu diakui memang semenjak emaknya sering pegang hape anakpun jadi kenal hape. Meskipun di tahap ini masih dalam pantauan saya. Bukannya saya cuek asal memberikan gadget pada anak. Saya sendiripun sudah sejak lama mempunyai perinsip memperbolehkan anak minjam hape emaknya, asal dalam s&k peraturan yang berlaku yang sudah saya terapkan.

Zaman berkembang dengan pesat saya sadar tidak bisa melawan arus begitu saja, ditambah lingkungan. Dampak negatif gadget memang selalu ada. Jangankan hape, tivi pun pasti ada. Hanya cara kita saja sebagai orang tua yang harus bijak dalam menggunakan gadget. Karena kebiasaan kita juga pasti dicontoh si kecil.

Seperti menjawab itu semua, beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk menghadiri acara BookLauch yang berjudul Digital ParenThink. Buku ini ditulis oleh Mona Ratuliu, diluncurkan pada hari Kamis, 16 Agustus di Lippo Mall Kemang ( Avenue star), Jakarta Selatan. Membuat saya belajar lagi tentang pengasuhan di era saat ini. Event BookLauch ini dihadiri oleh media, juga beberapa komunitas blogger dan berlangsung dari jam 15:30 sampai selesai acara.

Lauching Buku Digital ParenThink by Mona Ratuliu
Setelah sukses menerbitkan buku berjudul ParenThink pada 2015 lalu, Mona Ratuliu kembali menyapa orangtua dengan buku terbaru. Masih seputar pola mengasuh anak, kini Mona menitikfokuskan bahasan pada penggunaan gadget pada anak. Buku keduanya ini diberi judul Digital ParenThink.

Digital ParenThink bermula dari kebingungan Mona sebagai seorang ibu dari tiga anak: Davina Shava Felisa, Barata Rahadian Nezar, dan Syanala Kania Salsabila, di tengah zaman dan perangkat teknologinya yang kian maju.

“Saya termasuk yang agak kewalahan mengejar perkembangan teknologi. Sebagai manusia yang pernah hidup di era sahabat pena, koleksi prangko, koleksi kaset, telepon umum, wartel, mesin ketik, dan hal ‘vintage’ lainnya, sungguh kadang saya merasa bingung dengan zaman ini,” aku figure publik kelahiran 1982 ini.

Kebingungan Mona beralasan, dia bimbang antara memperbolehkan anak-anaknya bersentuhan dengan gadget atau tidak. Meski pada akhirnya anak-anaknya tak bisa menghindar dari perangkat teknologi mutakhir tersebut.  Anak pertama Mona, Davina, berkenalan dengan gadget sejak kelas 4 SD dan Raka sejak usia lima tahun. Sejak saat itu anak-anaknya mengalami perubahan.

“Mima (panggilan Davina) mulai tidak suka berkegiatan selain aktivitasnya mengutak-atik smartphone,” ujar pemeran Poppy dalam sinteron Lupus Milenia tersebut.

Begitu juga dengan Raka yang semakin hari kian akrab dengan tablet pintarnya, membuatnya enggan beraktivitas ke luar ruangan. “Kalau kami anggap dia sudah terlalu banyak bermain dan memintanya berhenti, dia akan cenderung marah,” papar Mona.

Hingga suatu hari Mona memutuskan menyita gadget dari Mima. Bukan hal mudah tentunya, baik bagi Mona maupun putri sulungnya. Di saat teman-teman seusianya sedang asyik gadget, menyitanya tentu ada konsekuensi tersendiri. Inilah yang di kemudian hari mencetuskan ide pada Mona untuk menulis kisahnya sebagai orangtua menghadapi kids zaman now. Lahirlah buku Digital ParenThink.

Tak hanya pengalaman langsung Mona dan keluarga dalam menghadapi gadget, Mona juga melengkapi bukunya dengan pengetahuan beberapa pakar di bidangnya masing-masing. Tak ketinggalan, kisah anak-anak yang sukses memanfaatkan gadget, seperti Naura (penyanyi), Naya (pengusaha slime), Keisya (sukses juala pastry di Instagram), hingga Rafi Ramadhan (pemusik). Layaknya pisau, gadget pun ada manfaatnya kok.

Lauching Buku Digital ParenThink by Mona Ratuliu

Judul Buku: Digital ParenThink "Tips Mengasuh Kids Zaman Now"
Penulis: Mona Ratuliu
Penerbit: Noura Publishing
Jumlah Halaman: 199
Harga: Rp 69.000,00



Jadi, Digital ParenThink adalah buku panduan lengkap bagi orangtua dan anak milenial.
Next Blogpost aku mau ubek-ubek bukunya buat di Review!

Hmmm, jadi teringat peralihan teknologi pada zaman lawas...

Misalnya media elektronik, dari radio beralih ke televisi tidak berwarna. (Meskipun radio masih ada namun sedikit ditinggalkan)
Dari piringan, kaset, MP3, sampai smule, dan masih banyak lagi.
Dari Pak pos sampai Email,
Dari delman (yang lebih go green) ke Becak, motor lalu beralih ke mobil angkutan umum.
Jika kita tidak mengikuti perkembangan zaman mungkin saja saat ini kemana-mana masih pakai delman, dan dengerin lagu pake piringan hitam. Ih gak bisa kan? Karena ya, itu lingkungan juga ikut mempengaruhi. Sama halnya seperti internet, kita gak bisa memblokade akses internet atau gadget ke anak. Jika kita pandang dari sisi negative nya memang banyak sekali namun sekali lagi kita tidak bisa melawan arus perkembangan zaman. Semua itu harus 'bagaimana cara, kita bijak menggunakannya'.

Anakku baru berusia 5 tahun, ia masih dalam pengawasan ekstra saat mengakses internet. Misalnya game apa yang ia dwonload? Filem kartun apa yang ia tonton? Sudahkah mom n dad membersihkan riwayat pencarian internetnya?  Do's & Dont's apa yang sebaiknya tidak ia buka dan berapa lama anak boleh bermain dengan hp.

Balik lagi pada perkembangan jaman. Kita gak bisa menarik semua yang berhubungan dengan gadget, karena emang gak bakalan bisa. seringkali tugas sekolah pun membutuhkan gadget, iya gak? Pemanfaatan teknologi di era digital ini pasti akan sangat dibutuhkan, mau tidak mau anak pasti akan bertemu gadget di sekolah ataupun lingkungan. Gak mau kan anak kita gaptek di jaman yang lebih canggih lagi pada zamannya anak dewasa kelak?

Namun penggunaan gadget untuk anak juga tidak bisa seenak jidat. Semua itu seperti pisau. Jika kita bijak cara menggunakannya maka akan sangat membantu but justru sebaliknya jika tanpa aturan bisa berbahaya.

Pokoknya semua sudah jelas apa yang di tulis Mona di dalam bukunya yang sebenarnya sepemikiran dengan saya. mungkin next time saya juga bisa menulis buku seperti mbak Mona kali ya.. hehe




Mendidik seorang anak merupakan amanah yang tidak bisa dianggap sepele dan membiarkannya tumbuh begitu saja. Berbeda dengan zaman kita. Anak hidup pada zamannya.


Semoga Bermanfaat!

You May Also Like

6 komentar

  1. wah belum baca nih, menarik kayaknya

    ReplyDelete
  2. Nambah lagi nih rekomendasi buku-buku seputar Smart Mommy. Kalau saya sedang berencana memasukkan anak ke PAUD karena melihat perilaku anak yang lebih memilih asik sendiri dengan gadget daripada bermain dengan anak-anak lain. Ditambah lagi pekerjaan saya hampir gak bisa lepas dari smartphone, sehingga sulit rasanya jika harus menyembunyikan smartphone dari anak kecuali jika si anak disibukkan dengan kegiatan yang menstimulasi otak dan kemampuan bersosialisi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalah banget emang tuh ya moms.. tapi setelah baca buku ini ada banyak sharing yg bs kita benahi loh ternyata..

      Delete
  3. Nah aku baru tau Mona Ratuliu bener2 penulis buku parenting ya? Setelah sebelumnya aku dikasih tau temen kalo Mona pernah nulis buku ttg parenting juga,, penasaran deh sama bukunya terutama krn katanya dia awalnya termasuk ortu pemarah

    ReplyDelete
  4. Aku juga bingung dengan zaman sekarang. Lihat anak balita dikasih hape baru tenang kayaknya menjadi biasa. Entahlah mba.

    Sepertinya sulit berpisah dengan gadget. Sewaktu anak masih SD aku mudah mengawasi dan membuat peraturan pemakaian gadget. Tapi kalau sekolah di SMP, ada banyak tugas sekolah, pelajaran ekstra bahkan latihan soal dengan menggunakan gadget. Kecuali yang mondok, biasanya dilarang. Tantangan orang tua makin berat saja.

    ReplyDelete