Sepenggal Cerita di Pengadilan Agama

by - August 30, 2019


Untuk ke 4 kali saya berada di Pengadilan Agama Cikarang Kab. Bekasi. Saat mendaftar gugatan, sidang pertama, kedua, pengambilan uang panjar, dan akta cerai.

Senin, lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Saya mengambil nomor antrian untuk akta cerai, seolah sudah tidak kaku lagi karena hafal alur prosesnya tidak seperti pertama kalinya yang penuh drama, kali ini saya datang lebih santai. Kemudian saya berusaha mencari tempat duduk yang hampir penuh diantara mereka yang menunggu giliran. Ada yang menunggu persidangan, daftar pengaduan, ada yang bawa keluarganya anak, cucu, ada pula suami istri yang sepakat untuk cerai.

Saya melihat mereka, seorang ibu muda yang mengadu KDRT, perempuan cantik yang menggugat suaminya karena lama tidak pulang. Macam-macam raut wajah mereka, sedih, rempong, marah, cuek, tegang, bingung. Mengingatkan saya pada pertama kali ke tempat ini. Menangis sesegukan, bukan karena patah hati ia menikah lagi, tapi sedih luar biasa tidak menyangka bahwa saya sendiri yang mengurus ini. Bahkan pakai uang pribadi yang seharusnya untuk simpenan sekolah anak.

Pikiran saya melayang saat duduk di kursi antrian. Mengapa ada banyak sekali mereka yang bercerai? Apakah pemandangan ini setiap harinya?

"Satu kota saja setiap harinya sangat banyak orang yang ingin bercerai, bagaimana jika dihitung seluruh indonesia?"

Saya ingat kata menteri pemberdayaan perempuan tempo lalu, saat saya menghadiri konfrensi perss kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Kasus pengguggat terbanyak itu adalah perempuan. Setiap hari ya selalu ada perceraian. Makannya perempuan jangan apa-apa langsung minta C"

"Sekarang di Indonesia kian banyak perempuan yang menelantarlan anaknya karena menjadi tulang punggung pasca bercerai. Iya kalo mereka produktif tapi bagaimana jika mereka perempuan belum berdaya. Belum lagi nasib anak-anak Indonesia"

Ya memang menohok di hati saya saat itu. Berhasil membuat saya menangis sendu di KRL menuju pulang dari konfrensi perss yang tadinya sedang bekerja sebagai single mom, pulang membawa sedih.

Baca juga, bunda jangan mudah mengatakan C

"Tidak ada perempuan yang ingin bercerai dengan seorang yang ia cintai. Benarkan? Tapi ada di masa saat jiwa raga ini sudah tidak sanggup. Mungkin caraku yang salah atau mungkin caranya yang salah?. .. agh bukan waktunya menyalahkan, kami sudah berusaha saling bertahan hingga, qodarullah jalan kami akhirnya berbeda". Pikirku dulu...

Pengalaman bercerai itu menjadikan hikmah yang luar biasa dalam hidup saya. Bahwa jangan terlalu memfokuskan pengharapan kita kepada manusia karena manusia tempatnya kecewa. Tapi komitmen kita kepada Allah, tapi niatkan ibadah karena Allah. Saya yakin itu sulit banget karena tidak ada rumah tangga yang selalu baik-baik saja.

Monggo dibaca, Pelajaran Pasca Bercerai

Di depan saya seorang ibu sekitar umur 40an dengan temannya, bicara masalah cinta dengan suaminya, yang saya herankan tidak ada rasa sedih atau minimal termenung, ini malah heboh reaksi, bertanya pendapat ke temannya tentang status WA yang harus di update pasca berpisah "eh eh ini baca deh, baca de, status gw bikin dia baper gak?" #tepokjidat

Kurang lebih begini isinya,
Tangismu adalah senyumku,
Bahagiaku adalah deritamu,
Maaf sudah terlambat untuk mencintaiku... bla bla bla

Seakan memceraikannya adalah solusi balas dendam karena telah menyakiti hati.

Why? Ini bukan masalah putus dengan pacar tapi perceraian loh...

Seremeh itu kah perceraian?
Sakit. Sudah tidak cinta lagi...

Ah kamu bell, seperti tidak pernah gagal saja!

Ya, memang benar disetiap ujian selalu ada hikmah yang bisa diambil. Sebagai rasa prihatinnya saya melihat tingkat perceraian yang kian terus meningkat di negeri ini membuat saya ingin berbagi pelajaran itu sendiri.

Mungkinkah bisa diselamatkan? Jika masalahnya spele?

Mencegah anak-anak broken home?

Menjadikan masing-masing individu lebih matang lagi jika berhasil mempertahankan keutuhan?

Menguatkan iman kita dan hubungan kita kepada Allah?

Cobaan itu membuat kita panen pahala yang besar?


"Orang yang pernah gagal bukan berarti dia gagal, justru ia lebih bisa belajar dari kegagalan itu"

Ya seharusnya memang begitu...

You May Also Like

1 komentar

  1. Kok saya jadi ngakak baca komentar yang posting status ya mbak, hehehe. Semoga tetap kuat setelah goncangan rumah tangga.

    ReplyDelete