Salah Aturan Minum Obat TB/ OAT Tahap Lanjutan dan Hamil Saat masih pengobatan TB 4 Bulan

by - October 07, 2019


Hamil saat pengobatan TB

Tanggal 25 Sepember lalu adalah tepat 4 bulan pengobatan TB Paru saya. Ada banyak kejutan saat memasuki bulan ke 5 ini, pastinya akan saya sharing disini.

Begitu syok saya pas tahu ternyata 2 bulan melewati tahap lanjutan saya salah minum aturan obat oat yang kuning itu. Sebelumnya saya mengikuti anjuran dokter pertama yang merawat saya pas di Rumah Sakit, saat akan menjalani tahap pengobatan lanjutan setelah fase intensif, kemudian selanjutnya akan diteruskan di puskesmas untuk pengambilan obat berikutnya. Saya pernah tulis di sini ↩

Pengobatan TB Paru setelah 3 bulan, dari Rumah Sakit ke Puskesmas

Singkat cerita, saya tetap meminum obat kuning TB Paru mengikuti dokter pertama yakni 3 tablet setiap hari, setiap hari! Persis minum obat TB yang merah itu loh, atau tahap intensif. Dokter puskesmas terdekat rumah sayapun mengikuti rekomendasi aturan minum sesuai dokter pertama saya 3 tablet setiap hari dan tidak ada masalah sampai disitu. Meskipun saya sudah menjelaskan cara dan kebiasaan saya minum obat OAT ini kepada dokter puskesmas, yakni malam bukan pagi sebelum tidur dengan jeda 2 jam setelah makan malam terakhir. Okeh beliau manggut2.

Memang keganjilan sudah saya rasakan pas saya melihat tanggal kembali dan jumlah obat berbeda! Biasanya dokter paru saya yang di Rumah Sakit memberi obat sesuai tanggal kembali. Misal kembali 7 hari kemudian, beliau memberi dosis 3x7 berarti 21 tablet, jadi saya kembali kontrol saat obat selalu habis. Beda dengan pas saya ambil obat di puskesmas, obat OAT yang diberikan memang selalu banyak (2 blitser biasanya). Satu kali itu, ambil obat di puskesmas lagi ketika habis dan jumlah obat tidak sesuai kunjungan kembali, saya tanya,

"Dok jika obat sudah habis tapi kunjungan kembalinya masih lama, bagaimana?"

Dokter puskesmaspun menjawab

"Tidak apa-apa, tidak harus mengikuti tanggal kembali kunjungan begitu obat habis bisa langsung kesini"

Okay berarti aman dan tidak ada masalah saat itu.


Masalah itu muncul saat saya pindah faskes dari puskesmas ke puskesmas baru

Tidak lama dari 2 bulan itu saya pindah tempat tinggal. Otomatis pindah faskes juga kan. Saya pilih yang dekat dengan tempat tinggal saya sekarang ini. Sebelumnya saya ingin bertanya-tanya dulu ke puskesmas baru yakni Puskesmas Rawumbu syarat apa saja untuk melanjutkan pengambilan obat TB Paru disitu. Dokter puskesmas Rawalumbu banyak menanyai hal, beda dengan puskesmas sebelumnya. Beliau memerintahkan saya untuk mengambil surat keterangan atau pengantar dari puskesmas asal dan juga menanyai "Bagaimana cara saya minum obat OAT tahap lanjutan ini"

ya, saya jawab apa adanya bahwa saya minum obat kuning itu sama seperti minum obat TB merah tahap intensif sebelumnya yakni, 3 tablet setiap hari sesuai anjuran dokter pertama.

Ternyata salah, selama ini saya salah 😢

Obat kuning atau OAT tahap lanjutan diminum seminggu 3 kali 3 tablet. Atau selang seling tidak setiap hari. Misal hari senin 3 tablet, selasa tidak minum, rabu minum 3 tablet, kamis tidak minum, begitu seterusnya sampai 3 kali dalam seminggu.

Lalu Bagaimana jika sudah terlanjur salah?

Sudah 2 bulan ini saya salah atau lebih tepatnya bingung, bingung sekali. Dokter mana yang harus saya percayai? Dokter pertama yang menangani saya bilang setiap hari kemudian dokter puskesmas ke-2 ini bilang seminggu sekali.

Felling saya mengatakan yang benar adalah seminggu 3 kali minum, karena saya membaca buku panduannya di buku jadwal kontrol. Memang betul untuk tahap lanjutan dituliskan 3 tablet setiap 3 kali dalam seminggu. 

Menyesal baru kerasa sekarang karena kurang kritis. Ini karena saya menganggap dokter yang menangani saya itu lebih tahu kondisi saya dan lebih paham karena dibidangnya. Tak jarang saya mendengar bahwa minum obat TB itu harus disiplin, setiap hari, setiap hari gak boleh putus atau harus ngulang lagi dan itu pengobatanya lebih sulit untuk kemungkinan sembuh.

"Harusnya saya tanya pada dokter pertama, kenapa di buku anjuran tahap lanjutan itu seminggu 3 kali  bukan tiap hari lagi"

Akh, sudah terlanjur, saya hanya bisa positif thinking saja. Mungkin saja saat itu berat badan saya masih kurang untuk mengonsumsi OAT tahap lanjutan karena di buku di tulis minimal 55kg sedangkan saya baru 50kg. Bisa jadi, tapi ingat ini cuma pikiran saya saja ya, bukan sebuah alasan yang tepat.

Yasudahlah, dokter puskesmas yang sekarang ini bilang tidak apa-apa, iya meyakinkan saya tidak akan ada efek yang serius, berdoa saja kepada tuhan, kata beliau.

Kegelisahan tambah meningkat pasalnya pas banget saya sedang hamil muda, terus baru tahu salah aturan minum OAT lanjutan? Meskipun sudah banyak dokter yang saya kroscek mengatakan antibiotik TB Paru tidak berbahaya untuk janin. Tapi masih kebayang lemesnya pas pulang dari Puskesmas Rawalumbu.

Tetep positif thingking aja sama yang maha kuasa. Insyaallah gak ngaruh ke janin yang dikandung, mohon doanya ya pembaca!

Dan sekarang minum obat OAT tahap lanjutan sudah ganti jadwal dari yang tiap hari menjadi seminggu 3 kali/3 tab. Semangat 2 bulan lagi.

Artikel terkait, Hamil Saat Masih Pengobatan TBC


You May Also Like

0 komentar