Permohonanku Kepada Tuhan saat pernah sekarat

by - October 30, 2019


Hari itu, masih ingat betul rasanya sakit dada menyerang tubuh ini. Nyeri yang amat sangat setiap tarikan nafas, begitu membuatku pasrah akan tiba saatnya saya tutup usia.

Di dalam kamar yang dingin, tubuh yang nyaris seperti mayat pucat pasi, hanya menyisakan tulang, sepanjang hari itu ku tertidur. Dari belakang kurasakan pelukan anak sematawayangku. Mungkin saja itu hari saya tidur untuk selamanya. Beberapa kali anakku menyebut mamah bangun, aku hanya mampu mendengarnya.

Wasiatpun sudah ku catat, termasuk pengasuhannya.

Beberapa kali anakku menyebut mamah bangun, aku hanya mampu mendengarnya..

Beberapa kali anakku menyebut mamah bangun, aku hanya mampu mendengarnya..

Sekilas dalam benakku berkata,
"siapa yg bertanggung jawab atas anakku selain diriku? Tidak ada org lain yang menyanginya melebihi, saya ibunya yang menyanginya apa adanya"

Ya Allah berikanlah aku kesempatan, panjangkan umurku untuk bersamai anakku sampai ia benar-benar bisa mandiri.

Berikanlah aku kekuatan...

Terbanyang waktu kami bersama, dari sejak mengandungnya, melahirkan, menemaninya belajar jalan, bermain berpetualang bersama, memasak untuknya, olahraga dengannya dan tertawa bercanda bersamanya. Dan terakhir belum lama ini, menemaninya bermain bulu tangkis saat tubuhku sangat terasa melemah. Meminta dimasakan makanan, saat tubuhku tak kuat untuk memasak lagi.


Lalu kemudian aku terbangun dengan tiba2, aku paksa tubuh ini bangkit dan memutuskan untuk segera mungkin ke Bekasi untuk ke rumah sakit meskipun menggunakan transportasi umum, KRL. dengan nafas tersengal, langkah terpogoh-pogoh, pucat pasi, untung saja aku mengenakan cadar kalo tidak, mungkin penampilanku sangat buruk mirip mayat hidup. Anemia dengan HB 6, Tensi 80, dan berat badan 35kg, untuk berjalan 5 langkah pun keringat dingin membanjiri tubuhku, lelah yang luar biasa. Apalagi berjalan menelusuri peron, naik/turun tangga JPO, membawa gembolan tas, menuntun anak, itu kekuatan yang saya maksimalkan demi ingin ikhtiar untuk hidup. Hidup bersamai anak saya yang masih kecil.

Ya, aku hanya bisa mengandalkan diriku dan selalu ku andalkan diriku...

Beberapa hari kemudian setelah pulang dari Rumah Sakit

Setiap fajar selesai sahur dan solat subuh, ku lihat di atas balkon rumah, matahari pagi begitu indah, udara pagi begitu segar. Nikmat mana lagi yg kau dustakan?

"Mungkin saja umurku tidak panjang, ini adalah pagi terakhir, siapkan dirimu"

Tubuh yang semakin mengerikan saat bercermin rasanya membuatku membenci benda itu.

"Ya Allah sehatkanlah hamba, agar bisa maksimal beribadah membahagiakan suami dengan rupawan yang menyenangkan untuknya"

Kadang nyeri dada itu muncul lagi, pernah begitu sakit, sangat sakit, sampai aku tdk bisa tidur, dan menangis, berdoa aku ikhlas jika tak lagi panjang umur tapi aku beri aku kesempatan mendampingi anakku sampai ia bisa mandiri, ya Allah. Terakhir kabar yang ku dengar saat aku rawat inap, anakku terkurung di dalam rumah kakakku dalam sepi, dingin. sampai jam 2 siang dan belum makan apapun, sehingga ketika aku pulang dari rawat inap akhdan sakit. Muntah hebat, masuk angin, dan trauma. Tambah menusuk hatiku yang sudah sakit semakin sakit. Aku menangis lagi "Bagaimana jika saya tidak ada!!!"

Beberapa bulan kemudian, 

Sekarang, HB ku normal, tensiku stabil, berat badan 51kg dan saking sehatnya kini aku diperbolehkan dokter untuk mengandung anak kedua.

Anak kedua atau anakku berikutnya mengingatkanku pada permohonanku kepada Allah saat masa-masa itu. Setidaknya jika kakak pertamanya sudah mandiri ia dapat kuamanahkan untuk menjaga adik-adiknya :)

Jika memang benar usiaku tidak panjang lagi.

Semoga rasa sakit itu menjadi penggugur dosa...

Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan...

You May Also Like

0 komentar