Harta karun di dalam Hutan

by - February 04, 2020


Bagi saya kesehatan adalah rezeki yang tak ternilai dibandingkan dengan harta. Maha baiknya Allah sudah menyediakan obat untuk penyakit yang diturunkanya. Madu, sebisa mungkin selalu ada di rumah untuk multivitamin daya imunitas tubuh secara alami. Hmmm, bagi saya madu saja sudah cukup atau mau ditambah dengan vitamin lainya seperti vitamin C boleh juga. Di musim hujan seperti sekarang ini terlebih saya sedang mengandung pula, madu menjadi vitamin tambahan yang harus selalu dikonsumsi setiap hari. Perihatinya untuk mendapatkan madu asli sekarang ini tidak mudah. Kalaupun asli itu harus didapat dengan tangan sendiri, mengingatkan petualangan saat kecil dulu berburu madu di hutan bersama sepupu. Ya kami kerap berpetualang mencari makanan yang menurut ku sekarang ini sangat"eksotis". Bagi penduduk kampung yang sudah tidak asing dengan hutan, bagi mereka hutan sumber makanan.

Makanan dari hutan



Madu yang dihasilkan lebah ini diistimewakan dalam surah Al-quran yakni An-nahl,

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,’ kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (Quran Surat An-Nahl Ayat 68-69)


Madu digambarkan di dalam Al-Quran sebagai sumber penyembuhan, saya sendiri selalu percaya bahwa setiap penyakit itu Allah sediakan pula obatnya.

Teringat waktu kecil, setiap liburan sekolah tiba saya dan kakak-kakak saya menginap di rumah nenek yang tidak jauh dari kaki gunung. Di kaki gunung itu ada sebuah hutan kecil dan harus menyebrang persawahan jika hendak kesana.

Ngapain ke hutan?


Di gunung itu ada hutan juga perkebunan milik uwa dan penduduk setempat. Mereka menggunakan lahan hutan gunung tersebut untuk bercocok tanam.

Hutan sumber pangan, ada banyak sekali yang dihasilkan di kebun tersebut. Hasil hutan berupa tanaman singkong, kacang panjang, air minum alami, kayu bakar, tidak jarang kami berburu hewan liar seperti kelinci, burung, madu, dan umbi-umbian untuk dibakar. Selain penduduk, satwa fauna di hutan tersebut amat bergantung dengan sumber daya alamnya.

Dulu waktu kecil untuk memperoleh madu saya dan sepupu harus susah payah mengambilnya. Sepupu saya sudah lihat dan ahli, saya dan kakak kebagian menonton, dan membantunya makan madu, hehe.

Makanan eksotis ku temukan di hutan


Kalo di papua sagu selain menjadi makanan pokok, olahan makanan berbahan dasar sagu pun terbilang unik termasuk memakan ulat sagu secara mentah ini sering saya lihat di televisi explor. Beda wilayah beda juga ciri khas. Kalo di papua ada sagu di hutan dekat kampung nenek beda lagi. Selain berburu madu dengan anak-anak kampung saya pernah diajak bakar-bakar makanan berupa umbi-umbian yang asal ditemukan di hutan. Makanan tersebut adalah singkong, talas, untuk sayurnya jamur, rebung, daun semanggi liar, beberapa buah-buahan liar seperti cuplukan.

Untuk jamur saya sendiri gak tau namanya apa itu cuma anak situ yang paham mana jamur beracun dan mana yang boleh dimakan. Sebelumnya untuk jamur itu tidak dibakar tapi dimasak.

Untuk pengolahannya tidak seperti pendaki tersesat ya, tapi memang sudah di sediakan hawu(tungku tempat bakar) dan juga panci/katel yang sudah disediakan sebelumnya di saung tempat uwa berkebun.

Entah doyan atau lapar olahan itu selalu habis oleh kami seperti orang kelaparan, hehe.

20 tahun sudah berlalu,
Saat liburan tiba saya teringat petualangan tomboy saya saat main ke hutan. Dari jauh saya lihat gunung tempat saya berpetualang mencari madu sudah hampir sebagian putih bukan kehijauan lagi. 

Makin banyak mobil berat yang mengambil batu di gunung itu. Ya, gunung itu selain kaya akan hutan juga bebatuan disana dimanfaatkan penduduk untuk mata pencaharian sebagai buruh batu. Batu dari hutan tersebut dipecah kecil hingga menjadi krikil yang biasa dipakai untuk membangun rumah.

Tapi itu sebagian hanya sebagian kecil dari banyaknya fenomena hutan yang mulai terbajak. 

Beberapa waktu yang lalu saya lihat berita di salah satu stasiun televisi tentang pembabatan hutan secara paksa yang berganti alih menjadi perkebunan sawit. Parahnya itu bukan milik pemerintag tapi individu. Penduduk lokal menangis karena banyak pohon-pohon besar sejak jaman dahulu dan menganggapnya warisan leluhur tersebut habis dibantai. Unjuk rasa? Siapa yang mau dengar rakyat kecil? Bahkan terpencil. Saya lupa nama wilayahnya karena sedihnya tidak terlalu digembar gemborkan ke media.

http://betahita.id/2019/09/11/1-juta-hektare-sawit-serobot-hutan-alam-primer-dan-lahan-gambut/

Begitupun sebagian wilayah Indonesia yang masih dilingkupi hutan-hutan menjadi cap indonesia sebagai paru-paru dunia. Sungguh amat disayangkan jika hutan di negeri ini di beralih fungsi menjadi perindustrian dengan alasan "demi pemerataan ekonomi" tanpa diimbangi fungsi alaminya.

Permasalahan lingkungan saling terkait dan telah berdampak besar terhadap kehidupan masnusia dalam bentuk pemiskinan, ketidakadilan dan menurunnya kualitas hidup manusia. Sebagai solusi, penyelamatan lingkungan hidup harus menjadi sebuah gerakan publik.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)

Tingkat kerusakan lingkungan hidup saat ini telah menimbulkan masalah-masalah sosial seperti pengabaian hak-hak asasi rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan hidup yang sehat, marjinalisasi, dan pemiskinan. Oleh karenanya, masalah lingkungan hidup harus didudukkan sebagai masalah sosial.

Sehingga gerakan lingkungan hidup perlu mentransformasikan dirinya menjadi gerakan sosial yang melibatkan seluruh komponen masyarakat seperti buruh, petani, nelayan, guru, kaum profesional, pemuda, remaja, anak-anak, dan kaum perempuan.

Menyadari tantangan tersebut, organisasi WALHI telah berubah menjadi organisasi publik yang tidak hanya beranggotakan organisasi non pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. Organisasi publik yang memberikan peluang seluas-luasnya kepada perseorangan yang peduli dan berminat terlibat serta mendukung gerakan lingkungan hidup di Indonesia. Hal ini bertujuan mendorong percepatan gerakan lingkungan hidup menjadi gerakan sosial yang luas.

Perseorangan dan publik umum sekarang dapat bergabung menjadi anggota Sahabat WALHI dan terlibat secara aktif di dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup Indonesia. Wikipedia

***

Kita tidak bisa jalan sendiri untuk terus menjaga lingkungan hidup tetap seimbang terutama kelestarian hutan tetapi butuh kesadaran dan gotong royong bersama. Karena hutan dan isinya adalah warisan.

You May Also Like

0 komentar